Senin, 19 November 2012

isim jamid & isim musytaq,


MAKALAH
ISIM JAMID & ISIM MUSYTAQ

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah              :Bahasa Arab III
Dosen Pengampu      : Ma’mun, M.Si


 








Di Susun Oleh            :
NAMA                                         NIM
1.      A. Zaenuri                             : 116013935
2.      Romadhon                            : 116013936
3.      Chasan Mashuri                   : 116013940
4.      Wahudi                                  : 116013947

FAKULTAS  AGAMA  ISLAM
UNIVERSITAS  WAHID HASYIM SEMARANG
2012



KATA PENGANTAR

Alhamdullilah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT.Karena atas rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Bahasa Arab III yang berjudul “Isim Jamid & Isim Musytaq.”

            Dalam penyelesaian  makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu melalui kata pengantar ini penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini dan tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Bahasa Arab III Bapak Ma’mun, M.Si.
  Sebagi bantuan dan dorongan serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis dapat diterima menjadi amal saleh dan diterima Allah SWT. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya




BAB I
PENDAHULUAN
A.    PENDAHULUAN
      Segala puji milik Allah pencipta semesta alam. Sholawat serta salam mengusur deras kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, keluarganya, para sahabat dan umatnya.
      Bahasa Arab merupakan bahasa Al Qur’an dan Hadist Nabi, maka untuk mengkaji keduanya itu dibutuhkan seperangkat alat atau sarana agar tidak salah dalam membaca dan memahami teks Arab yang belum ada kharokatnya serta untuk mengetahui perubahan-perubahan kata terutama pada Hadist Nabi, sebab apabila salah dan keliru dalam pembacaan teks akan mengakibatkan salah dan keliru dalam pemaknaan. Untuk menghindari itu, sarananya adalah ilmu Nahwu dan Shorof, keduanya merupakan keutuhan yang tidak boleh diabaikan.
      Dalam makalah ini kami akan membahas tentang isim-isim yang bisa ditasrif maupun yang tidak dapat ditasrif serta pembagiannya.
B.     RUMUSAN MASALAH
a.   Definisi Isim Jamid
b.      Pembagian Isim Jamid
c.    Definisi Isim Musytaq
d.      Pembagian Isim Musytaq

























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Isim Jamid[1]
Isim jamid ialah suatu isim yang di dalamnya tidak terdapat suatu sifat.
Contoh: كُرْسِيٌ, (kursi)   عِلْمٌ  (ilmu), Jadi isim jamid ini tidak diambil dari kata yang lain.
B.     Pembagian Isim Jamid[2]
Isim jamid dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Isim jamid zat, yaitu isim yang menunjukkan arti sesuatu yang fisik atau yang menurut tata bahasa Arab dikatagerikan isim jamid zat.
Contoh: صَحْرَةٌ (batu besar)   قَلَمٌ (pena)مَلاَئِكَة ٌ (malaikat).
2.      Isim makna, yaitu isim yang menunjukkan arti sesuatu yang tidak fisik.
Contoh: عِلْمٌ (pengetahuan), دَرْسٌ (pelajaran), نَصْرٌ (pertolongan).
Isim makna juga disebut masdar ghoiru mim, karena isim ini sumber keluarnya isim musytaq. Masdar  ghoiru mim mempunyai beberapa wazan, yaitu:
a.       Fi’il tsulasi (fi’il yang terdiri dari tiga huruf) , wazan masdar fi’il tsulasibermacam-macam. Hal ini dapat kita ketahui dengan sima’i, yaitu mengikuti orang arab atau merujuk kepada kitab-kitab arab.
Diantara wazan-wazan itu antara lain :
فِعَالَةٌ contohnya  قِرَاءَةٌ fi’ilnya قَرَأَ - يَقْرَأُ
فِعْلٌ  contohnya     عِلْمٌfi’ilnya عَلِمَ - يَعْلَمُ  
فَعَلَةٌ  contohnya  صَدَقَةٌ fi’ilnya صَدَقَ - يَصْدُقُ
فُعَالٌ  contohnya  بُكَاءٌ fi’ilnya بَكَىْ-يَبْكِىْ
b.      Fi’il ruba’I (fi’il yang terdiri dari empat huruf). Wazan masdar fi’il ruba’i diqiyaskan sesuai dengan wazan-wazan fi’il ruba’i, yaitu :
 أَفْعَلَ - يُفْعِلُ wazan masdarnya إِفْعَالٌ contohnya  أَسْلَمَ - يُسْلِمُmasdarnya  إسْلاَمٌ
 فَعَّلَ - يُفَعِّلُ Wazan masdarnya تَفْعِيْلٌ contohnya عَلَّمَّ - يُعَلِّمُ masdarnya   تَفْعِيْلٌ
 فَاعَلَ - يُفَاعِلُ Wazan masdarnya مُفَاعَلَةٌ contohnya حَاسَبَ - يُحَاسِبُ masdarnya مُحَاسَبَةٌ
 فَعْلَلَ - يُفَعْلِلُ Wazan masdarnya فِعْلاَلَةٌ contohnya زَلْزَلَ - يُزَلْزِلُ masdarnya زِلْزَالَةٌ
c.       Fi’il khumsi dan fi’il sudasi (fi’il yang terdiri dari lima dan enam huruf)
Wazan fi’il khumasi:
   تَفَعَّلَ - يَتَفَعَّلُ Wazan masdarnya تَفَعُّلٌ contohnya تَقَرَّبَ - يَتَقَرَّبُ masdarnya تَقَرُّبٌ
  إِفْتَعَلَ - يَفْتَعِلُ Wazan masdarnya إِفْتِعَالٌ contohnya إِجْتَمَعَ - يَجْتَمِعُ masdarnya إِجْتِمَاعٌ
Wazan fi’il sudasi:
  إِسِتَفْعَلَ - يَسْتَفْعِلُ Wazan masdarnya إِسْتِفْعَالٌ contohnya إِسْتَغْفَرَ - يَسْتَغْفِرُ masdarnya إِسْتِغْفَارٌ
C.    Definisi Isim Musytaq (Perubahan)[3]
Isim Musytaq ialah  isim yang terjadi atau diambil dari kalimat lain (bisa ditasrif) dan mengandung suatu sifat.
Contoh: عَالِمٌ menunjukkan suatu zat (orang) yang disifati dengan ilmu (عِلْمٌ), jadi عَالِمٌ artinya orang yang berilmu.
D.    Pembagian Isim Musytaq[4]
Isim musytaq ada 7 macam, yaitu :
1.      Isim fa’il, yaitu isim yang menunjukkan orang yang berbuat atau melakukan pekerjaan.
Wazan isim fa’il dari fi’il tsulasi mujarrot adalah : فَاعِلٌ
Contoh :
كَتَبَ Isim fa’ilnya كَاتِبٌ artinya orang yang menulis
قَرَأَ Isim fa’ilnya قَارِئٌ artinya orang yang membaca
Sedangkan wazan isim fa’il selain tsulasi mujarot, adalah mengikuti wazan fi’il mudhori’nya, dengan mengganti huruf mudhoro’ahnya menjadi huruf mim yang dibaca dummah, dan dikasrah hurufnya sebelum akhir.
Contoh:
أَكْرَمَ - يُكْرِمُ Isim fa’ilnya مُكْرِمٌ artinya orang yang menghormati
إِسْتَغْفَرَ - يَسْتَغْفِرُ Isim fa’ilnya مُسْتَغْفِرٌ artinya orang yang minta ampun
Isim fa’il dapat berperan sebagaimana fi’ilnya yang ma’lum, yaitu merofa’kan fa’ilnya dan menashobkan maf’ulnya.
2.      Isim maf’ul, yaitu isim yang menunjukkan arti sesuatu yang dijatuhi atau dikenai suatu pekerjaan.
Wazan isim maf’ul dari fi’il tsulasi mujarrot adalah مَفْعُوْلٌ
Contoh:
مَضْرُوْبٌ artinya yang dipukul
Sedangkan wazan isim maf’ul selain dari fi’il tsulasi mujarrot adalah mengikuti wazan isim fa’ilnya dengan membaca fathah sebelum akhir.
Contoh:
مُكْرَمٌ dan مُسْتَخْرَجٌ
isim maf’ul yang dari fi’il lazim harus diikuti dengan jar majrur atau dzarraf.
Contoh:
مُقَدَّمٌ عَلَيْهِ dan مُسْتَفْهَمٌ عَلَيْهِ, Jadi tidak boleh hanya مُقَدَّمٌ dan مُسْتَفْهَمٌ  saja.
Isim maf’ul bisa berperan sebagaimana fi’ilnya yang majhul.
3.      Sighat mubalaghah, yaitu isim yang menunjukkan arti isim fa’il yang mengandung arti penguatan atau menyangatkan (sangat).
Wazan-wazan sighat mubalaghah antara lain
§         فَعَّالٌ contoh عَلاَّمٌ artinya sangat pandai
§         فَعُوْلٌ contoh صَبُوْرٌ artinya sangat sabar
§         فَعِيْلٌ contoh سَمِيْعٌ artinya sangat mendengar
§         فَاعُوْلٌ contoh قَارُوْقٌ artinya sangat membedakan
§         فِعِّيْلٌ contoh صِدِّيْقٌ artinya sangat jujur
sighat mubalaghah ini bisa berperan sebagaimana fi’il yang ma’lum
4.      Sifat musyabahah bismil fa’il, yaitu isim musytaq yang menunjukkan tentang sifat yang selalu melekat pada mausuf (yang disifati). Sifat musyabahah bismil fa’il ini dibentuk hanya dari fi’il tsulasi lazim (fi’il yang tidak mempunyai maf’ul). Wazan sifat musyabahah bermacam-macam dan hanya bisa diketahui dengan sima’i. Wazan-wazan itu antara lain, contoh:
§         شَجُعَ - يَشْجُعُ sifat musyabahahnya شُجَاعٌ artinya (selalu) pemberani.
§         عَفَّ - يَعِفُّ sifat musyabahahnya عَفِيْفٌ artinya (selalu) menjaga diri
§         غَضِبَ - يَغْضَبُ sifat musyabahahnya غَضْبَانٌ artinya (selalu) pemarah
Sifat musyabahah bismil fa’il bisa berperan sebagaimana fi’ilnya yang ma’lum.
5.      Isim tafdhil, yaitu isim yang dibentuk dari wazan أَفْعَلُ berfungsi untuk menunjukkan arti lebih dari yang lain. Jadi isim tafdhil ini terbuat dari fi’il yang mempunyai arti kurang atau lebih.
Contoh:
كَبُرَ – يَكْبُرٌ è أَكْبَرُ artinya lebih besar
فَضُلَ - يَفْضُلُ è أَفْضَلُ artinya lebih utama
Isim tafdhil bisa berperan sebagaimana fi’ilnya yang ma’lum.
Sedangkan fi’il yang mempunyai arti tetap tidak bisa dibuat isim tafdhil. Contoh مَاتَ artinya mati.
Adapun fi’il yang bisa dibuat isim tafdhil adalah fi’il tsulasi yang mutasharif (bisa ditasrif), tam dan ma’lum (kata kerja aktif).
6.      Isim zaman (waktu) dan isim makan (tempat).
Isim zaman yaitu  isim musytaq yang menunjukkan arti waktu terjadinya suatu pekerjaan.
Isim makan yaitu isim musytaq yang menunjukkan arti tempat terjadinya suatu pekerjaan.
Wazan-wazan isim zaman dan makan :
Fi’il tsulasi mujarrot mengikuti wazan مَفْعَلٌ dan  مِفْعَالٌ
a.       Wazan  apabila :
Ø  Berupa fi’il yang mu’tal lam fi’ilnya. Contoh:
 رَمَىْ - يَرْمِىIsim zaman / makannya  artinya  مَرِمَىْwaktu / tempat melempar.
 غَزَا - يَغْزُوْIsim zaman / makannya artinyaمَغْزًى  waktu / tempat pertempuran.
 وَقَىْ - يَقِىIsim zaman / makannya artinyaمَوْقًى   waktu / tempat menjaga.
Ø   ‘ain fi’il pada fi’il mudhori’nya dibaca dhummah atau fathah
لَعِبَ - يَلْعَبُ Isim zaman/makannya مَلْعَبٌ artinya waktu/ tempat bermain.
كَتَبَ - يَكْتُبَ Isim zaman/ makannya مَكْتَبٌ artinya waktu/ tempat menulis.
صَنَعَ - يَصْنَعَ Isim zaman/ makannya مَصْنَعٌ artinya waktu / tempat membuat.
b.      Wazan مَفْعِلٌ apabila:
Ø  Berupa fi’il yang mu’tal fa’ fi’ilnya.
Contoh:
وَقَفَ - يَقِفُ Isim zaman / makannya مَوْقِفٌ artinya waktu atau tempat berhenti.
Ø  ‘Ain fi’il  pada fi’il mudhori’nya dibaca kasrah.
 نَزَلَ - يَنْزِلُIsim zaman / makannya مَنْزِلٌ artinya waktu atau tempat turun (rumah).
Adapun isim zaman dan makan dari fi’il selain tsulasi mujarrot mengikuti wazan isim maf’ulnya.
Contoh:
إِسْتَخْرَجَ - يَسْتَخْرِجُ Isim zaman/makannya مُسْتَخْرَجٌ artinya waktu atau tempat minta keluar.
Untuk menentukan bahwa isim-isim tersebut di atas isim zaman atau makan adalah adanya qarinah yang menjelaskannya.
Misalnya, adanya kata أَمْسِ (kemarin) menunjukkan isim zaman. Dan adanya هُنَا (disini) menunjukkan isim makan.
7.      Isim alat, yaitu isim yang menunjukkan arti alat suatu pekerjaan. Isim alat ini hanya terbentuk dari fi’il tsulasi mujarrot yang muta’addi. Adapun wazan isim alat ada 4, yaitu :
a.        مِفْعَلٌ Contoh مِنْصَرٌ artinya alat menolong.
b.       مِفْعَالٌ Contoh مِفْتَاحٌ artinya alat membuka (kunci).
c.          فَعَّالٌ Contoh ثَلاَّجَةٌ artinya alat pendingin (kulkas).
d.        مِفْعَلَةٌ Contoh مِمْسَحَةٌ artinya alat menghapus.
Terkadang isim alat ini tidak berupa wazan-wazan tersebut di atas, tetapi menggunakan kalimat yang lain. Contoh :
قَلَمٌ artinya pena, كَأْسٌ artinya gelas / piala.
 
























BAB III
KESIMPULAN
A.    KESIMPULAN
Dari keterangan diatas, dapat kami simpulkan sebagai berikut:
a.       Isim jamid dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Isim jamid dzat
2.      Isim jamid ma’na (mashdar ghiru mim)
b.      Isim musytaq ada tujuh, yaitu:
1.      Isim fa’il
2.      Isim maf’ul
3.      Shighot mubalaghoh
4.       Sifat musyabihat
5.      Isim tafdhil
6.      Isim zaman dan Isim makan
7.      Isim ‘alat
B.      PENUTUP
Demikianlah yang dapat kami sajikan. Kami menyadari bahwa makalah kami jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita. Amiin














Daftar Pustaka
Ni’mah,Fuad, Qowa’idul Lughoh alArobiyyah juz II, (Beirut: Daarul  Atsaqofah al Islamiyyah, tt).
Sukamto, Imamuddin, dan A. Munawari, Tata Bahasa Arab, (Yogyakarta: Nurma Media Idea, 2007),




[1] Fuad Ni’mah, Qowa’idul Lughoh alArobiyyah juz II, (Beirut: Daarul  Atsaqofah al Islamiyyah, tt). Hlm. 30
[2] Drs. H. Imamuddin Sukamto, MA dan A. Munawari, Tata Bahasa Arab, (Yogyakarta: Nurma Media Idea, 2007), hlm. 12-16
[3] Ibid. hlm. 38
[4] Ibid. Hlm. 17-22

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar